SEJARAH
PGRI 2
Pendidikan
di awal Indonesia merdeka menjadi salah aspek penting untuk menumbuhkan
semangat memperjuangan nasionalisme dan cita-cita kemerdekaan Republik
Indonesia. Perhatian pemerintah Indonesia yang baru lahir dan sebagian dari
tokoh-tokoh pejuang revolusi yang sadar bahwa bidang pendidikan sangat penting
untuk menumbuhkan semangat nasionalisme serta upaya untuk menanamkan kesadaran
sebagai bangsa yang merdeka. Berdasarkan pokok-pokok pendidikan dan pengajaran
baru oleh Panitia Penyelidik Pengajaran disusunlah tujuan dan landasan
pendidikan serta sistim persekolahan yang mencirikan ke Indonesiaan. Organisasi
Persatuan Guru Republik Indonesia, sebagai wadah para guru Indonesia yang sudah
sejak masa Hindia Belanda. Sejak proklamasi organisasi PGRI menetapkan dirinya
sebagai organisasi pejuang yang turut mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan
Indonesia NKRI. Organisasi ini merupakan manifestasi kaum guru Indonesia dalam
mengambil bagian dan tanggung jawab sesuai dengan bidang profesinya sebagai
pendidik untuk mengisi kemerdekaan yang dicita-citakan. karenanya organisasi
ini dipandang sebagai pemersatu kaum guru yang bersifat: 1) unitaris, 2)
independen, 3) non partai politik. Juga merupakan suatu sarana, wahana dalam
kepentingan kaum guru bagi pengembangan profesinya, pendidikan pada umumnya
serta pengabdiannya kepada tanah air dan bangsa.
Persatuan
Guru Republik Indonesia adalah organisasi yang lahir bersama Republik Indonesia
dalam mempertahankan kemerdekaan. Dengan sendirinya derap langkah perjuangannya
cukup panjang, berliku, penuh tantangan dan hambatan demi mencapai cita harapan
atau visi dan misinya sesuai dengan yang tersirat dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga.
Peranan guru
sangat penting dalam mencapai kemerdekaan Indonesia secara utuh jika dilihat
dari sejarah perjuangan PGRI dari masa perang kemerdekaan ke masa demokrasi
liberal. Indonesia bisa terlepas dari jajahan Belanda dan kembali ke bentuk
Negara Kesatuan Republik Indonesia berkat semangat juang guru.
PGRI
berjuang dengan penuh tantangan dalam rangka mencapai tujuan dan mendukung
terwujudnya nasional bangsa Indonesia.
A.
PGRI Pada Masa Perang Kemerdekaan Periode 1945-1949
Asas yang tercantum dalam Anggaran Dasar pendirian
PGRI adalah “Kedaulatan Rakyat”. Cita – cita PGRI sejalan dengan cita – cita
bangsa Indonesia secara keseluruhan. Para guru di Indonesia menginginkan
kebebasan dan kemerdekaan, memacu kecerdasan bangsa dan membela serta
memperjuangkan kesejahteraan anggotanya. Sesuai dengan prioritas perjuangan
pada kurun waktu 1945-1949 yang difokuskan pada perjuangan fisik bersenjata
untuk mempertahankan kemerdekaan. Maka para guru pendidik bangsa yang menjadi
warga PGRI tidak mau ketinggalan. Mereka sebagian ikut memanggul senjata
berjuang melawan penjajah, terlibat dalam perang gerilya. Para wanita pun ikut
aktif menggerakan dapur umum, atau menjadi anggota PMI (Palang Merah Indonesia)
bagi para pejuang di garis depan. Di antara mereka, tidak sedikit pula yang
gugur menjadi pahlawan bangsa.
Kelahiran
PGRI pada zaman kemerdekaan
a.
Lahirnya PGRI Tanggal 25 November
1945
b.
Kongres II PGRI di Surakarta 21-23
November 1946
c.
Kongres III PGRI di Madiun 27-29
Februari 1948
B.
PGRI pada Masa Demokrasi Liberal 1950-1959
1.
Kongres IV PGRI di Yogyakarta 26-28 Februari 1950
Pada tanggal 26-28 Februari 1950 dilaksanakan Kongres
PGRI IV di Yogyakarta. Pada saat itu Yogyakarta merupakan Ibu Kota Republik
Indonesia, dan Mr. Assa’at ditunjuk sebagai pemangku jabatan Presiden Republik
Indonesia.
Sambutan Mr. Assa’at pada acara pembukaan
Kongres IV sangat mengesankan, membakar semangat juang PGRI isinya adalah:
1. Persatukanlah,
istilah dan sempurnakanlah makna ikrar resmi berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda dari
Sabang sampai Merauke.
2. Memuji PGRI
karena merupakan pencerminan semangat juang para guru sebagai pendidik rakyat
dan pendidik bangsa.
Menganjurkan
agar PGRI sesuai dengan kehendak dan tekad para pendirinya
Pengakuan RIS
oleh Belanda dan Pengaruhnya dalam kongres PGRI IV
Pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda mengakui
kedaulatan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Suasana politik masih
sangat rawan. Saat itu terdapat dua golongan masyarakat, yaitu golongan pada
masa perjuangn gigih menentang Belanda dalam membela dan mempertahankan
kemerdekaan. Golongan ini dikenal dengan sebutan “orang-orang Republik”.
Sedangkan golongan yang tidak mau
bekerja sama dengan Belanda dinamakan “Golongan Non Cooperator”. Golongan kedua
adalah golongan orang-orang yang bekerja sama dengan Belanda, mereka disebut
“Golongan Cooperator”. Kedua golongan ini saling bertentangan, saling
mencurigai, sulit bersatu seperti minyak dan air. Dikalangan guru pun kedua
golongan ini ada.dalam suasana yang penuh kecurigaan inilah Kongres PGRI IV
berlangsung.
Keputusan
Penting yang Dikeluarkan Kongres PGRI IV
Dalam suasana politik yang tidak
menentudan saling mencurigai, Kongres PGRI IV secara aklamasi mengambil
keputusan untuk mempersatukan semua guru di seluruh tanah air Indonesia dalam
satu wadah organisasi yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Tekad
yang bulad disatukan yaitu untuk:
a. Mempertahankan
dan mengisi kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
b. Menghilangkan
rasa kecurigaan dan rasa kedaerahan dikalangan guru.
Selain itu Kongres PGRI IV juga mengeluarkan “Maklumat
Persatuan” yang berisikan seruan kepada seluruh masyarakat khususnya guru-guru
untuk membantu menghilangkan suasana yang dapat membahayakan antara golongan
Cooperator (Co) dengan golongan Non Cooperator (Non) dan menggalang persatuan
dalam perjuangan untuk mengisi kemerdekaan.Maklumat Persatuan itu mendapat
perhatian dan penghargaan dari kalangan luas termasuk Pemerintah.
2.
Kongres V PGRI di Bandung 19-24 Desember 1950
Kongres V diadakan 10 bulan setelah Kongres IV di
Yogyakarta. Selain untuk menyongsong Lustrurn I PGRI, juga untuk merayakan
peleburan SGI/PGI kedalam PGRI. Dapat dikatakan bahwa kongres tersebut
merupakan “Kongres Persatuan”. Untuk pertama kalinya cabang-cabang yang belum
pernah hadir sebelumnya datang pada kongres ini.
Lahirnya Organisais-organisasi yang
Berasaskan Ideologi, Agama dan Kekaryaan
1. Gejala
Separatisme
Politik devide et impera yang diciptakan oleh penjajah
Belanda bertujuan untuk memecah belah bangsa Indonesia. Dengan sengaja dan
terencana pemerintah Belanda membakar dan memperuncing sentimen rasa
kedaerahan, agama, keturunan, adat-istiadat, lingkungan kerja, dan sebagainya.
Pengaruh politik devide et impera ini sangat terasa dalam masyarakan dan banyak
yang terpengaruh. Di dalam tubuh PGRI pun mulai nampak gejala-gelaja tersebut.
Karena perasaan tidak puas, merasa aspirasinya belum tertampung, kurang
mendapat perhatian dan sebagainya, mulai ada kasak-kusuk dan keinginan untuk
mendirikan organisasi-organisasi guru di luar PGRI, seperti: Ikatan PS/PSK
Ikatan Direktur SMP/SMA, Ikatan Guru CVO/DVO, Mendirikan IGN, IGM, PGH,
Persatuan Guru Tionghoa, dengan alasan perbedaan politik, agama dan etnis.
2.
Usaha-usaha PGRI Mengatasi Gejala Separatisme
PGRI menanggapi gejala-gejala ini dengan
penuh kebijaksanaa, jiwa besar, dan mempelajari penyebabnya. Usaha yang
dilakukan PGRI dalam upaya mengatasinya adalah:
a.
PB PGRI lebih meningkatkan konsolidasi organisasi
sampai ke daerah/cabang.
b.
Membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan, jiwa
semangat juang 45, melalui berbagai kegiatan.
Menjelaskan hasil-hasil perjuangan PGRI dan
program-program yang akan dilaksanakan
3.
Kongres VIII PGRI di Bandung 1956.
Suasana kongres ini mulanya sangat
meriah, namun sewaktu diadakan pemilihan Ketua Umum PB PGRI keadaan menjadi
tegang.Pihak Soebandri menambahkan kartu pemilihan (kartu palsu) sehingga
pemilihan tersebut di batalkan dan diulang kembali menggunakan kartu yang
baru.Kongres PGRI VIII ini juga menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari
Pendidikan.
4.
Kongres IX PGRI 31 Oktober – 4
November di Surabaya 1959.
Pada kongres IX di Surabaya bulan
oktober /November 1959, soebandri dkk melancarkan politik adu domba diantara
para kongres, terutama pada waktu pemilihan Ketua Umum.Usaha tersebut tidak
berhasil, ME.Sugiadinata terpilih lagi sebagai Ketua Umum BP PGRI.
C. PGRI
pada Masa Orde Lama / DemokrasiTerpimpin (1959-1965).
1.
Lahirnya PGRI Non-Yaksentral/PKI.
Periode
tahun 1962-1965kongres ke X di selenggarakan dan merupakan episode yang sangat
pahit bagi PGRI. Dalam masa ini terjadi perpecahan dalam tubuh PGRI yang lebih
hebat dibandingkan dengan pada periode sebelumnya. Penyebab perpecahan itu
bukan demi kepentingan guruatau peropesi guru,melainkan karena ambisi politik
dari luar dengan dalih(pembentukan kekuatan dan panggunaan kekuatan).
2.
Pemecatan Massal Pejabat Departemen PP&K (1964)
Sistem pendidikan pancawardhana
dilandasi dengan prinsip-prinsip:
1)
Perkembangan cinta bangsa dan cinta tanah air,moral nasional /
internasional/keagamaan.
2) Perkembangan
kecerdasan.
3) Perkembangan
emosional-artistrik atau rasa keharuan dan keindahan lahir batin.
4) Perkembangan
keprigelan atau kekerajinan tangan dan,
5) Perkembangan
jasmani.
Moral panca cinta meliputi:
1) Cinta nusa dan
bangsa
2) Cinta ilmu
pengetahuan
3) Cinta kerja dan
rakyat yang bekerja
4) Cinta
perdamaian dan persahabatan antar bangsa-bangsa
5) Cinta orang
tua.
3.
PGRI Pasca-Peristiwa G30 S/PKI
Pada kongres IX PGRI di Surabaya
(oktober 1959),infiltrasi PKI kedalam tubuh PGRI benar” terasa,dan lebih jelas
lagi dalam kongres X di Jakarta(November 1962). Kiranya perinsip “siapa kawan
siapa lawan” berlaku pula dalam tubuh PGRI.”kawan”adalah semua golongan
pancasilaisanti PKI yang Dalam Pendidikan mengamankan Pancasila, dan
“Lawan”adalah PKI yang berusaha memnaksakan pendidikan. ”pancacinta”
dan “pancatinggi”. Akan tetapi kekuatan pancasila. PGRI masih lebih kuat
dan mampu bertahan menghadapi tantangan tersebut.
D.
PGRI Pada Masa Orde
Baru (1967-1998).
1.
Kesatuan aksi guru Indonesia (KAGI).
Para
guru-guru membentuk Kesatuan Aksi Guru Indonesia(KAGI) pada tanggal 2 februari
1966.KAGI pada mulanya terbentuk dijakarta raya dan jawa barat, kemudian
berturut-turut terbentuk KAGI di wilayah lainnya.
E.
PGRI pada Masa Reformasi (1999-sekarang).
1.
Kongres XIX 8-12 juli 2003 di
Semarang.
PGRI
mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menyediakan sarana dan
dana pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), di
luar gaji tenaga pendidikan dan pendidikan kedinasan
1. Peranan
guru setelah kemerdekaan sudah tidak diisi lagi dengan perjuangan fisik
mengangkat senjata, tetapi diisi melalui bidang pendidikan.
2. Guru
yang dulunya belum sepenuhnya dianggap sebagai profesi akhirnya diakui sebagai
profesi dengan adanya pencanangan guru sebagai profesi oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pada tanggal 2 Desember 2004.
3.
Guru tidak sekedar menjalankan tugas, namun harus memberikan yang terbaik bagi
dunia pendidikan di tanah air (menjadi guru yang kreatif, berwawasan,
professional, bermoral, kompeten dan pendorong perubahan).
No comments:
Post a Comment